Selasa, 31 Maret 2009

Kerajinan Akrilik Batu Menembus Pasar Manado

KERAJINAN bunga berbahan akrilik tidak hanya menggairahkan pertumbuhan ekonomi warga saja. Tapi telah membawa nama Kota Batu hingga ke berbagai daerah. Agar usaha kerajinan warga semakin berkembang, pemkot diminta membantu menyiapkan pasar kerajinan akrilik.
Adalah Suswidiantoro salah satu pelaku usaha kerajinan akrilik. Bermodal semangat, sejak di PHK dari Wastra Indah pada 2003, Widi-sapaan akrab Suswidiantoro memulai usahanya.
“Saya belajar sendiri, ternyata bisa. Setelah terkena PHK, saya memulai usaha ini sampai sekarang,” kata Widi. Buah tangan alumnus STM PGRI Singosari ini sejak dua hari lalu mengundang perhatian saat ditampilkan dalam pameran produk UMKM di alun alun Batu.
Aneka bunga berbahan akrilik karya Widi mengundang kagum. Tidak hanya diarena pameran saja, kini sudah dikenal luas hingga Sulawesi Utara. “Selama ini pemasarannya ke Manado. Selain itu dipasarkan ke Bandung dan Bali,” kata pemilik usaha kerajinan Nabila Akrilik ini.
Karyanya diluar Kota Batu memang diminati. Ini karena aneka bunga yang dibuatnya penuh dengan sentuhan seni. Mulai jenis bunga tangkai, bonsai dan aneka souvenir berbahan akrilik.
“Bahan dasarnya dari akrilik. Selain itu menggunakan pita kawat, kayu dan semen untuk cor pot,” jelasnya tentang bahan dasar untuk membuat kerajinan tangannya. Hanya saja dengan bahan dasar sederhana itu ia memberi sentuhan seni tinggi.
Kendati mengandalkan karya seninya, ternyata Widi tidak menjual dengan harga yang terlalu tinggi. Harga rata-rata karyanya dari Rp 10 ribu hingga Rp 450 ribu. “Yang harganya Rp 10 ribu berupa souvenir dan bunga tangkai. Sedangkan kalau yang harganya Rp 450 ribu, bentuknya bonsai dengan tinggi 70 cm,” terangnya.
Dalam sehari ia sanggup membuat tiga karya. “Kalau dihitung pendapatan setiap bulannya berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 3 juta,” kata ayah satu putra itu. Pendapatan rata-rata sebesar Rp 1 hingga Rp 3 juta juta itu sebenarnya masih bisa bertambah lagi.
Asalkan pemkot membantu membuatkan jaringan pasar karya seni. Misalnya membuat pasar seni sehingga memudahkan pembeli. Selama ini, untuk pemasarannya ia mengandalkan kemampuannya sendiri.
“Selama ini saya pasarkan di Batu, tepatnya di rumah saya di Jalan Panglima Sudirman. Selain itu saya juga buka outlet di Hotel Purnama dan Jatim Park, juga ada di Jalan Panjaitan Kota Malang,” katanya.
Dengan outletnya sendiri saja, Widi bisa mengembangkan usahanya itu. Jika pemkot membantu, bisa jadi usaha kerajinan berbahan akrilik itu terkenal hingga ke berbagai daerah lain.
“Selama ini yang paling saya butuhkan ya pasar. Kalau modal, tentu bisa mengikuti dengan sendirinya. Saya akan sangat senang bila ada perhatian pemkot untuk membantu pemasarannya,” harapnya. (van/malangpost)
Sumber:http://malangraya.web.id/2009/07/28/kerajinan-akrilik-batu-menembus-pasar-manado/

Add to Cart

1 komentar:

saya berminat...
bisa saya mempelajari??
saya di mojokerto dan saya rasa tdk cukup jauh dr batu...

Poskan Komentar